MAKALAH
PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI
KOMPONEN
ORGANISASI, JENIS DAN FAKTOR-FAKTORNYA

Oleh :
ALMA'U YAHYA
DESPI DAHNIAR
ERNI MEGAWATI
GITHA OKTASARI
AGO SOLEH ABDULLAH
DELY PUSPITA SARI
ERNI MEGAWATI
GITHA OKTASARI
AGO SOLEH ABDULLAH
DELY PUSPITA SARI
Dosen Pengampu :
ARIF LUTHFI Mp.d
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI ILMU TARBIYAH AL-QURANIYAH MANNA BENGKULU SELATAN
2012
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Dia-lah yang telah telah
memberikan nikmat kesempatan dan waktu serta rahmatnya sehingga penyusun mampu
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “KOMPONEN
ORGANISASI, JENIS DAN FAKTOR-FAKTORNYA”
Dengan harapan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kuliah dan diskusi
pada tatap muka perkuliahan.
Penyusun berharap agar para pembaca dapat memberikan kritik dan
masukan yang positif serta saran-saranya untuk kesempurnaan makalah ini.
Merupakan suatu
harapan pula, semoga makalah ini tercatat sebagai amal shaleh dan menjadi
motivator bagi penyusun.
Manna,Oktober2012
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... iii
A. Latar Belakang................................................................................. iii
B. Rumusan Masalah............................................................................ iii
BAB II PEMBAHASAN
A. Organisasi kurikulum..................................................................... 1
B. Komponen
organisasi..................................................................... 1
C. Jenis-jenis organisasi...................................................................... 6
D. Faktor-faktor organisasi ................................................................ 9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................... 12
B. Saran................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 14
BAB II
PEMBAHASAN
A. Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikuluam adalah
struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran
yang akan disampaikan kepada peserta didik. Struktur program ini merupakan
dasar yang cukup esensial dalam pembinaan kurikulum dan berkaitan erat dengan
tujuan program pendidikan yang hendak dicapai. Ada dua struktur yang
dikembangkan dalam pengorganisasian dan penyelenggaraan kurikulum, yaitu
struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berkaitan dengan
masalah pengorganisasian atau penyusunan materi yang akan ditransformasikan
kepada peserta didik dalam pola atau bentuk tertentu. Sedangkan struktur
vertical berhubungan dengan system-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah, yang
antara lain meliputi pengaturan kelas dan alokasi waktu. Tulisan ini mengurai
tentang komponene-komponen yang terkandung pada masing-masing struktur program
horizontal dan vertical.
B.
Komponen-Komponen Organisasi
1.
Struktur Horizontal
Struktur horizontal dalam
pengorganisasian kurikulum merupakan suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran
yang akan diberikan pada peserta didik. Sejak permulaan abad ke-20 terutama di
Amerika serikat muncul beberapa organisasi kurikulum yang baru sebagai reaksi
terhadap organisasi kurikulum subject matter, yang merupakan organisasi kurikulum
yang paling tua. Pertentangan muncul antara subject matter curriculum dengan
lawannya yaitu activity curriculum. Dalam dunia pendidikan dikenal ada tiga
jenis pola organisasin kurikulum, yakni: subject curriculum, activity
curriculum, dan core curriculum. Dalam prakteknya tidak pernah dijumpai satu
bentuk kurikulum yang murni melainkan terdapat modifikasi dari ketiga pola
tersebut.
Setiap organisasi kurikulum ditandai oleh ciri-ciri khusus yang membedakannya dari organisasi yang lain. Disamping cirri-ciri tersebut, setiap organisasi memerlukan sarana dan perangkat yang berbeda pula. Pelaksanaan kurikulum dipengaruhi dan bergantung kepada banyak factor terutama sarana belajar, guru, pimpinan pendidikan (kepala sekolah), dan orang tua peserta didik.
Setiap organisasi kurikulum ditandai oleh ciri-ciri khusus yang membedakannya dari organisasi yang lain. Disamping cirri-ciri tersebut, setiap organisasi memerlukan sarana dan perangkat yang berbeda pula. Pelaksanaan kurikulum dipengaruhi dan bergantung kepada banyak factor terutama sarana belajar, guru, pimpinan pendidikan (kepala sekolah), dan orang tua peserta didik.
·
Subject Matter Curriculum
Subject matter curriculum merupakan organisasi kurikulum
yang tertua dan banyak digunakan di berbagai negara. Subject matter curriculum
adalah organisasi materi pendidikan dalam bentuk mata-mata pelajaran yang
disajikan dan diberikan kepada peserta didik secara terpisah. Mata-mata
pelajaran itu biasanya berupa pengetahuan yang telah disusun secara sistematis
dan logis yang diberikan sesuai ndengan jenjang-jenjang tertentu.
Ciri-ciri : Mata pelajran yang diklasifikasikan sesuai dengan bidang keilmuan/pengetahuan ilmiah. Memberikan tekanan pada isi dan teknik memberikan pelajaran mata pelajaran umumnya bersifat konstan dan tidak banyak perubahan, meskipun perkembangan ilmu pengetahuan mengalami peningkatan
Perencanaan program pengajaran disusun terlebih dahulu. Untuk mengembangkan subject matter curriculum yang optimal, diperlukan beberapa sarana, baik personel, material, dan fasilitas lainnya. S. Nasution mengklasifikasi bentuk subject matter curriculum menjadi tiga, yaitu Separate subject curriculum, correlated subject curriculum, dan integrated subject curriculum. Bentuk ketiga ini ternyata sama dengan activity curriculum yang dimaksudkan oleh Nana Sudjana.
-Separate subject curriculum
Ciri-ciri : Mata pelajran yang diklasifikasikan sesuai dengan bidang keilmuan/pengetahuan ilmiah. Memberikan tekanan pada isi dan teknik memberikan pelajaran mata pelajaran umumnya bersifat konstan dan tidak banyak perubahan, meskipun perkembangan ilmu pengetahuan mengalami peningkatan
Perencanaan program pengajaran disusun terlebih dahulu. Untuk mengembangkan subject matter curriculum yang optimal, diperlukan beberapa sarana, baik personel, material, dan fasilitas lainnya. S. Nasution mengklasifikasi bentuk subject matter curriculum menjadi tiga, yaitu Separate subject curriculum, correlated subject curriculum, dan integrated subject curriculum. Bentuk ketiga ini ternyata sama dengan activity curriculum yang dimaksudkan oleh Nana Sudjana.
-Separate subject curriculum
Kurikulum ini menyajikan materi pelajaran dalam bentuk
subyek-subyek tertentu yang terpisah-pisah. Kurikulum yang disusun dalam bentuk
terpesah-pisah ini lebih bersifat subject centered, yaitu berpusat pada bahan
pelajaran, dari pada child centered, yang berpusat pada minat dan kebutuhan
peserta didik. Kurikulum bentuk ini disusun berdasarkan pandangan ilmu jiwa
asosiasi, yaitu mengharapkan terjadinga kepribadian yang bulat berdasarkan
potongan-potongan pengetahuan.
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan pada separate subject kurikulum ini.
Kelebihan kurikulum ini antara lain :
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan pada separate subject kurikulum ini.
Kelebihan kurikulum ini antara lain :
Bahan pelajaran dapat disampaikan secara logis, sistematis
dan berkesinambungan
Organisasinya sangat sederhan, mudah direncanakan, mudah dilaksanakan, dan mudah pula diadakan perubahan. Kurikulum ini mudah dievaluasi, untuk selanjutnya diadakan perbaikan seperlunya. Memudahkan guru untuk menyampaikan materi, karena guru hanya dibebani menyampaikan materi-materi tertentu yang sesuai dengan kompetensinya saja. Adapun kelemahan kurikulum ini antara lain:
Organisasinya sangat sederhan, mudah direncanakan, mudah dilaksanakan, dan mudah pula diadakan perubahan. Kurikulum ini mudah dievaluasi, untuk selanjutnya diadakan perbaikan seperlunya. Memudahkan guru untuk menyampaikan materi, karena guru hanya dibebani menyampaikan materi-materi tertentu yang sesuai dengan kompetensinya saja. Adapun kelemahan kurikulum ini antara lain:
Kurikulum ini memberikan pelajaran secara terpisah-pisah
yang tidak ada hubungannya dengan materi lain sehingga penguasaan peserta didik
atas materi merupakan sesuatu yang lepas antara satu dengan lainnya.
Kurikulum ini kurang mengakomodasi minat dan bakat peserta didik.
Kurikulum ini cenderung statis karena sudah direncanakan terlebih dahulu.
Kurikulum ini hanya mengembangkan ranah kognitif, dan kurang memperhatikan ranah afektifnya.
Kurikulum ini kurang mengakomodasi minat dan bakat peserta didik.
Kurikulum ini cenderung statis karena sudah direncanakan terlebih dahulu.
Kurikulum ini hanya mengembangkan ranah kognitif, dan kurang memperhatikan ranah afektifnya.
-Correlated Subject curriculum
Kurikulum ini berusaha menghubungkan antara dua mata
pelajaran atau lebih, sehingga diharapkan peserta didik akan memperoleh
pengetahuan yang utuh dan tidak sepotong-potong seperti pada separate subject
curriculum, misalnya menghubungkan antara matematika, fisika, kimia dan biologi
yang semuanya tergolong dalam IPA; menghubungkan antara sejarah, ekonomi, dan
ilmu social yang memang termasuk dalam IPS.
Kurikulum ini juga mempunyai kelemahan, di samping banyak
kelebihan yang
dimiliki.
Kelebihan kurikulum ini antara lain: Adanya korelasi antara
berbagai mata pelajaran, sehingga dapat menopang kebulatan pengalaman dan
pengetahuan peserta didik. Adanya kemampuan peserta didik untuk menerapkan
pengetahuan secara fungsional, karena mereka dapat memanfaatkan korelasi antar
mata pelajaran untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Adapun kekurangan
kurikulum ini adalah: Kurikulum ini, sebagaimana separate sumject curriculum,
juga belum menyentuh aspek emosi. Penggabungan beberapa mata pelajaran yang
lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam
-Integrated Curriculum
-Integrated Curriculum
Kurikulum ini benar-benar menghilangkan batas di antara
berbagai mata pelajaran. Keseluruhan mata pelajaran dilebur menjadi satu dan
disajikan dalam bentuk unit. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran,
diharapkan dapat terbentuk kebulatan pengetahuan peserta didik yang sesuai
dengan lingkungan masyarakatnnya. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus
disesuaikan dengan situasi, masalah, dan kebutuhan kehidupan di luar sekolah. Kelebihan
kurikilum ini antara lain:
Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan dan minat anak. Kurikulum ini memungkin danya hubungan saling menguntungkan antara sekolah dengan masyarakat, karena masyarakat menjadi laboratorium bagi peserta didik.
Kelemahan kurikulum ini antara lain: Tidak mempunyai organisasi yang logis dan sistematis. Pelaksanaannya membutuhkan prasarana yang harus lengkap
Sulit diadakan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaannya.
Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan dan minat anak. Kurikulum ini memungkin danya hubungan saling menguntungkan antara sekolah dengan masyarakat, karena masyarakat menjadi laboratorium bagi peserta didik.
Kelemahan kurikulum ini antara lain: Tidak mempunyai organisasi yang logis dan sistematis. Pelaksanaannya membutuhkan prasarana yang harus lengkap
Sulit diadakan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaannya.
·
Activity Curriculum
Kurikulum ini sama dengan integrated subject curriculum,
yang menekankan pada aktivitas dan pengalaman peserta didik dalam proses
belajar mengajar.
Ada tiga ciri kurikulum ini yang membedakan dengan kurikulum yang lain, diantaranya:
Program kegiatan pembelajaran di sekolah ditentukan oleh perhatian dan tujuan anak. Tidak ada perencanaan terlebih dahulu, karena materi disesuaikan dengan minat peserta didik. Metode yang paling dominant dalam pengajarannya adalah problem solving. Adanya program khusus untuk mel;ayani peserta didik yang mempunyai minat khusus. Guru yang mengajar harus mempunyai pengetahuan yang luas, khususnya tentang perkembangan anak. Tidak ada urutan tingkatan dan kelas perencanaan dan proses pembelajaran tidak terikat oleh waktu.
Ada tiga ciri kurikulum ini yang membedakan dengan kurikulum yang lain, diantaranya:
Program kegiatan pembelajaran di sekolah ditentukan oleh perhatian dan tujuan anak. Tidak ada perencanaan terlebih dahulu, karena materi disesuaikan dengan minat peserta didik. Metode yang paling dominant dalam pengajarannya adalah problem solving. Adanya program khusus untuk mel;ayani peserta didik yang mempunyai minat khusus. Guru yang mengajar harus mempunyai pengetahuan yang luas, khususnya tentang perkembangan anak. Tidak ada urutan tingkatan dan kelas perencanaan dan proses pembelajaran tidak terikat oleh waktu.
·
Core Curriculum
Core curriculum (kurikulum inti) muncul atas dasar pemikiran
bahwa pendidikan memberikan tekanan pada dua aspek yang berbeda, yakni:
Adanya reaksi terhadap mata pelajaran yang terpisah-pisah yang mengakumulasi bahan pelajaran. Karena permasalahan inilah sehingga perlu mengorganisasi mata pelajaran dalam satu inti yang mengandung banyak bahan pelajaran yang diharapkan dapat memperkaya isi mata pelajaran dengan makna yang lebih luas.
Perubahan konsep mengenai peranan social pendidikan di sekolah. Di dalam masyarakat yang semakin terbagi-bagi dan terfragmentasi, perlu adanya program pendidikan yang menekankan kepada usaha mempertahankan nilai-nilai umum dan perspektif social yang dianut bersama.
Adanya reaksi terhadap mata pelajaran yang terpisah-pisah yang mengakumulasi bahan pelajaran. Karena permasalahan inilah sehingga perlu mengorganisasi mata pelajaran dalam satu inti yang mengandung banyak bahan pelajaran yang diharapkan dapat memperkaya isi mata pelajaran dengan makna yang lebih luas.
Perubahan konsep mengenai peranan social pendidikan di sekolah. Di dalam masyarakat yang semakin terbagi-bagi dan terfragmentasi, perlu adanya program pendidikan yang menekankan kepada usaha mempertahankan nilai-nilai umum dan perspektif social yang dianut bersama.
2. Struktur Vertikal
Struktur vertical berhubungan dengan masalah system-sistem
penyelenggaraan kurikulum sekolah, yaitu apakah kurikulum itu dijalankan dengan
system kelas atau tanpa kelas, system unit waktu yang digunakan, dan masalah
pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi (dan pokok bahasan) pada tiap
tingkat.
Penyelenggaraan kurikulum melalui system kelas dan tanpa kelas.
Penyelenggaraan kurikulum melalui system kelas dan tanpa kelas.
-Sistem Kelas.
Kurikulum ini menuntut dilaksanakan melalui ke;as-kelas
tertentu, yaitu dari kelas I sampai kelas VI untuk sekolah dasar dan tiga
tingakatan untuk tingkat lanjutan.
Penentuan bahan pelajaran telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dimungkinkan selesai untuk diberikan di kelas tersebut untuk waktu tertentu.
Konsekuensi system kelas adalah adanya kenaikan kelas setiap tahun. Dengan system ini akan diperoleh kelogisan, kesistematisan, dan ketetapan penjenjangan bahan pelajaran. Di samping itu, kurikulumny mudah disusun serta mudah dievaluasi.
Kelemahan system kelas ini antara lain adalah timbulnya efek psikologis bagi peserta didik yang tidak naik kelas.
Penentuan bahan pelajaran telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dimungkinkan selesai untuk diberikan di kelas tersebut untuk waktu tertentu.
Konsekuensi system kelas adalah adanya kenaikan kelas setiap tahun. Dengan system ini akan diperoleh kelogisan, kesistematisan, dan ketetapan penjenjangan bahan pelajaran. Di samping itu, kurikulumny mudah disusun serta mudah dievaluasi.
Kelemahan system kelas ini antara lain adalah timbulnya efek psikologis bagi peserta didik yang tidak naik kelas.
-Sistem tanpa kelas
Pelaksanaan program dengan system ini tidak mengenal adanya
kelas-kelas tertentu, yang ada hanyalah tingkat-tingkat program tertentu.
Setiap anak diberi kebebasan untuk berpindah program setiap waktu tanpa harus
menunggu kawan-kawannya. System ini misalnya dapat ditemui pada lembaga-lembaga
kursus yang diselenggarakan oleh lembaga tertentu. Keunggulan system ini
terletak pada kebebasan bagi siswa dan cukup demokratis. Adapun kelemahannya,
antara lain sulit ditentukan scope dan sequence program ini untuk mencegah
terulangnya penyampaian bahan yang telah diberikan. Sistem Unit waktu yang
dipergunakan
Dalam system waktu dikenal adanya system Caturwulan dan semester. Dalam system Caturwulan, penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi pelajaran dilaksanakan dalam ukuran waktu 4 bulan. Sedangkan dalam system semester waktu pembelajaran dilaksanakan selama 6 bulan. Pengalokasian waktu Masing-masing mata pelajaran memerlukan alokasi waktu yang berbeda-beda sesuai tingkat urgensi dan kesulitannya. Mata pelajaran yang disiapkan untuk pelaksanaan ujian membutuhkan alokasi yang lebih banyak dari pada mata pelajaran dari kurikulum local yang tidak diuji secara nasional. Pokok-pokok bahasan dalam satu mata pelajaran juga memiliki komplesitas yang berbeda-berbeda yang tentunya membutuhkan alokasi waktu yang berbeda pula.
Dalam system waktu dikenal adanya system Caturwulan dan semester. Dalam system Caturwulan, penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi pelajaran dilaksanakan dalam ukuran waktu 4 bulan. Sedangkan dalam system semester waktu pembelajaran dilaksanakan selama 6 bulan. Pengalokasian waktu Masing-masing mata pelajaran memerlukan alokasi waktu yang berbeda-beda sesuai tingkat urgensi dan kesulitannya. Mata pelajaran yang disiapkan untuk pelaksanaan ujian membutuhkan alokasi yang lebih banyak dari pada mata pelajaran dari kurikulum local yang tidak diuji secara nasional. Pokok-pokok bahasan dalam satu mata pelajaran juga memiliki komplesitas yang berbeda-berbeda yang tentunya membutuhkan alokasi waktu yang berbeda pula.
C.
Jenis-Jenis Organisasi
1.
Mata pelajaran terpisah (separated
curriculum)
Kurikulum ini menyajikan segala
bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran yang terpisah-pisah satu
sama lain, terlepas dan tidak mempunyai kaitan sama sekali sehingga
banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya. Beberapa hal positif dari separated curriculum
ini adalah : Bahan pelajaran disajikan secara sistematis dan logis dapat
dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya terdahulu
Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan. Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada. Sedangkan beberapa kritik terhadap kurikulum ini antara lain: Mata pelajaran terlepas-lepas satu sama lain. Tidak atau kurang memperhatikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut psikologis, kurikulum demikian mengandung kelemahan: banyak terjadi verbalitas dan menghafal serta makna tujuan pelajaran kurang dihayati oleh anak didik. Kurikulum ini cenderung statis dan ketinggalan dari perkembangan zaman.
Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan. Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada. Sedangkan beberapa kritik terhadap kurikulum ini antara lain: Mata pelajaran terlepas-lepas satu sama lain. Tidak atau kurang memperhatikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut psikologis, kurikulum demikian mengandung kelemahan: banyak terjadi verbalitas dan menghafal serta makna tujuan pelajaran kurang dihayati oleh anak didik. Kurikulum ini cenderung statis dan ketinggalan dari perkembangan zaman.
2.
Mata pelajaran gabungan (corelated
curriculum)
Yaitu kurikulum yang menekankan
perlunya hubungan diantara satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, tetapi
tetap memperhatikan cirri atau karakteristik tiap bidang studi tersebut.
Misalnya Sejarah dan Ilmu Bumi dapat diajarkan untuk saling memperkuat. Ada
tiga jenis korelasi yang sifatnya bergantung dari jenis mata pelajaran.
Korelasi faktual, misalnya sejarah dan kesusastraan. Fakta-fakta sejarah
disajikan melalui penulisan karangan sehingga menambah kemungkinan menikmati
bacaannya oleh siswa. Korelasi deskriptif, korelasi ini dapat dilihat pada
penggunaan generalisasi yang berlaku untuk dua atau lebih mata pelajaran. Misal
psikologi dapat berkorelasi dengan sejarah atau Ilmu Pengetahuan Sosial dengan
menggunakan prinsip-prinsip yang ada dalam psikologi untuk menerangkan
kejadian-kejadian sosial. Korelasi normatif, hampir sama denagan korelasi
deskriptif, perbedaannya terletak pada prinsipnya yang bersifat moral sosial.
Sejarah dan kesusastraan dapat dikorelasikan berdasarkan prinsip-prinsip moral
sosial dan etika. Beberapa kelebihan kurikulum ini adalah: Dengan korelasi,
pengetahuan murid lebih integral, tidak terlepas-lepas (berpadu). Dengan
melihat hubungan erat antara mata pelajaran satu dengan yang lain, minat murid
bertambah. Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas dan mendalam karena
memandang dari berbagai sudut. Dengan korelasi maka yang diutamakan adalah
pengertaian dan prinsip-prinsip bukan pengetahuan akan fakta, dengan begitu
lebih memungkinkan penggunaan pengetahuan secara fungsional bagi murid-murid.
Berikut beberapa kelemahan dari kurikukum mata pelajaran gabungan ini adalah :
Sulit untuk menghubungkan dengan masalah-masalah yang hangat dalam kehidupan
sehari-hari, sebab dasarnya subject centered. Brood fields tidak memberikan
pengetahuan yang sistematis dan mendalam untuk sesuatu mata pelajaran sehingga
hal ini dipandang kurang cukup untuk bekal mengikuti pelajaran di perguruan
tinggi.
3.
Kurikulum terpadu (integrated
curriculum)
Yaitu kurikulum yang menyajikan
bahan pembelajaran secara unit dan keseluruhan tanpa mengadakan batas-batas
antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya. Ciri-ciri kurikulum
terintegrasi ini antara lain : Berdasarkan psikologi belajar gestalt dan
organismik, berdasarkan landasan sosiologis dan sosiokultural, berdasarkan
kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
a) Bentuk kurikulum ini tidak hanya
ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi lebih
luas. Bahkan mata pelajaran baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna
pemecahan masalah Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik
pengalaman (experience) atau pelajaran (subject matter unit). Peran guru sama
aktifnya dengan peran murid. Guru selaku pembimbing. Beberpa manfaat kurikulum
terpadu ini antara lain:
b) Segala sesuatu yang dipelajari anak
merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain.
c) Kurikulum ini sesuai dengan
pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan kepada masalah yang
berarti dalam kehidupan mereka.
d) Kurikulum ini memungkinkan hubungan
yang erat antara sekolah dengan masyarakat.
e) Aktifitas anak-anak meningkat karena
dirangsang untuk berpikir sendiri dan berkerja sendiri, atau kerjasama dengan
kelompok.
f) Kurikulum ini mudah disesuaikan
dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid.
Di samping itu kurikulum ini juga
mempunyai beberapa kelemahan yang diantaranya ialah:
a) Guru belum siap untuk melaksanakan
kurikulum ini.
b) Organisasin kurang sitematis
c) Tugas-tuganya memberatkan guru.
d) Tidak memungkinkan ujian umum, sebab
tidak ada unformitas di sekolah-sekolah satu sama lain.
e) Siswa dianggap tidak mampu ikut
serta dalam menentukan kurikulum.
f) Sarana dan prasarana yang kurang
memadai.
Adapun dalam bentuk kurikulum
terpadu ini terbagi lagi, meliputi :
a) Kurikulum inti (core curriculum)
Kurikulum ini bertujuan untuk
mengembangkan integrasi, melayani kebutuhan siswa dan meningkatkan keaktifan
belajar dan hubungan antara kehidupan dan belajar.
Ciri yang membedakan kurikulum inti,
yaitu: Kurikulum inti menekankan kepada nilai-nilai sosial, unsur universalitas
dalam suatu kebudayaan memberikan stabilitas dan kesatuan pada masyarakat.
Struktur kurikulum inti ditentukan oleh problem sosial. Karakteristik yang
dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah : Kurikulum ini direncanakan secara
berkelanjutan (continue), selalu berkaitan dan direncanakan secara
terus-menerus. Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari
pengalaman yang saling berkaitan. Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar
masalah atau problema yang dihadapi secara aktual. Isi kurikulum cenderung
mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun sosial. Isi
kurikulum ini difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini
sebagai kurikulum umum, tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, sosial
dan pengalam pribadi.
Manfaat kurikulum inti adalah:
Segala sesuatu yang dipelajari dalam unit bertalian erat Kurikulum ini sesuai
dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar. Kurikulum ini memungkinkan
hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat. Kurikulum ini sesuai
dengan paham demokrasi. Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat.
b) Kurikulum yang berlandaskan pada
proses sosial dan fungsi kehidupan (social functions and persistens
situations).
Dalam pengembangan kurikulum ini di
dasarkan pada lingkungan social anak didik, sehingga pelajaran yang di
peroleh memiliki fungsi dan makna bagi kehidupan sehari-hari dan tidak
terpisah dengan kondisi masyarakat.
c) Kurikulum yang berpusat pada
kegiatan atau pengalaman (experience and activity curriculum)
Kurikulum ini dikenal juga dengan
sebutan activity curriculum. Mengutamakan kegiatan-kegiatan atau
pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegritas
dengan lingkungan maupun potensi siswa. Kurikulum ini berupaya mengatasi
kelemahan pada subject curriculum, yakni anak lebih banyak menerima
(passive). Rasional penggunaan bentuk kurikulum ini adalah: Belajar dapat
terjadi dengan proses mengalami. Anak dapat belajar dengan baik bila ia
dihadapkan dengan masalah aktual, sehingga dapat menemukan kebutuhan reel atau
minatnya. Belajar merupakan transaksi aktif. Belajar secara aktif memerlukan
kegiatan yang bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai tujuan dan
memenuhi kebutuhan pribadinya.
D. Faktor – Faktor Dalam Organisasi Kurikulum
a. Scope
Scope atau ruang lingkup kurikulum berkenaan
dengan bahan pelajaran yang harus di liputi. Scope menentukan apa yang akan di
pelajari, Biasanya yang menentukan scope termasuk sequence (urutan) adalah para
ahli pengembang kurikulum di bantu oleh ahli di siplin ilmu, juga pengarang
buku, penyusun program latiahan atau kursus.
b. Sequence atau
Urutan
Sequence menentukan urutan bahan pelajaran di
sajikan, apa yang dahulu apa yang kemudian, dengan maksud agar poses belajar
berjalan dengan baik. Faktor – faktor yang turut menentukan urutan bahan
pelajaran antara lain : kematangan anak, latar belakang pengalaman atau
pengatahuan, tingkat inteligenci, minat, kegunaan bahan, dan kesulitan bahan
pelajaran.
c. Continuitas
Dengan continuitas di maksud bahwa bahan
pelajaran senantiasa meningkat dalam keluasan dan kedalamannya. Dengan bahan
yang di pelajari siswa di hadapkan dengan bahan yang lebih kompleks, buah
fikiran yang lebih sulit, nilai – nilai yang lebih tinggi, sikap yang lebih
halus, ketelitian yang lebih cermat, operasi mental yang lebih matang
d. Integrasi
Dengan kurikulum berdasarkan mata pelajaran
yang terpisah – pisah besar kemungkinan pengetahuan yang di miliki para siswa
lepas – lepas. Adnya fokus bahan pelajara terpadu berupa konsep, prinsip,
masalah membuka kemungkinan menggunakan berbagai di siplin secara fungsional.
e. Keseimbangan
Keseimbangan dapat di pandang dari dua segi,
yaitu :
(1). Keseimbangan isi, yaitu tentang apa yang
di pelajari dan
(2) keseimbangan cara atau proses belajar.
Tidak semua siswa dapat belajar secara efektif dengan cara yang sama. Maka
perlu berbagai macam metode dan
Kelompok-kelompok
mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata
pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di
samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan
lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik
disediakan kegiatan pengembangan diri.
kegiatan belajar.
Beragamnya pandangan yang mendasari
pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan
kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
- Mata
pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah
mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa
ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada
waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan
peserta didik, semua materi diberikan sama
- Mata
pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi
kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang
ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna
memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
- Bidang
studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan
beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama
dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu
mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya
dikorelasikan dengan core tersebut.
- Program
yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang
menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata
pelajaran.
- Inti
Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah,
dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan
mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam
upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi
pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.Ecletic Program, yaitu
suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang
terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang
bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu :
(1)
kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
(2)
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
(3)
kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
(4)
kelompok mata pelajaran estetika; dan
(5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan
pelajaran yang akan diajarkan atau disampaikan kepada murid, atau merupakan
suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin dicapai dengan tujuan
mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa
dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dicapai secara
efektif.
2. Komponen-komponen organisasi yaitu :
a. Komponen horizontal
Struktur horizontal dalam
pengorganisasian kurikulum merupakan suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran
yang akan diberikan pada peserta didik.
b. Komponen vertikal
struktur vertical berhubungan dengan
system-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah, yang antara lain meliputi
pengaturan kelas dan alokasi waktu
3. Jenis-jenis organisasi kurikulum
yaitu :
a. Separated Subject Curriculum
b. Correlated Curriculum
c. Integrated Curriculum
4. Faktor-Faktor yang perlu
diperhatikan dalam organisasi kurikulum :
a. Ruang lingkup (Scope)
b. Urutan bahan (sequence)
c. Kontinuitas
d. Keseimbangan
e. Integrasi atau keterpaduan
B. Saran
Dalam rangka mewujudkan
kecintaan terhadap belajar pengembangankurikulum,
sudah seharusnya kita sebagai mahasiswa yang bergelut di jurusan tarbiyah dan
salah satunya untuk bekaldalammengajar di instansipemerintahmaupunswasta, untuk merubah paradigmanya, dari yang
tidak efektif, tidak komunikatif, tidak kontekstual kepada yang lebih efektif,
komunikatif, dan kontekstual.





